Penyebab disgrafia disebabkan karena faktor neurologis,yaitu faktor gangguan pada otak kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan menulisnya.
Masalah umum yg biasanya berhubungan dengan disgrafia salah satunya adalah stress. Sering kali anak yg menderita disgrafia akan mengalami frustasi saat menghadapi tugas menulis atau ejaan. ini disebabkan karena disfungsinya saraf pusat.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, Vygotsky mengemukakan tiga konsep belajar sebagai berikut.
Zone of Proximal Development (ZPD), yaitu suatu wilayah (range) antara
level terendah, yaitu kemampuan
yang dapat diraih anak jika tanpa bimbingan, hingga
level tertinggi, yaitu kemampuan
yang dapat diraih anak jika dengan bimbingan.
Scaffolding, yaitu teknik untuk mengubah tingkat dukungan.
Language and thought.
Aplikasi teori Vygotsky dapat digunakan guru dan orang tua untuk membantu anak yang mengalami disgrafia.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan meliputi:
Mengidentifikasi masalah disgrafia, terdiri dari:
- masalah penggunaan huruf kapital,
- ketidakkonsistenan bentuk huruf,
- alur yang tidak stabil (tulisan naik turun), dan
- ukuran dan bentuk huruf tidak konsisten.
Menentukan ZPD pada masing-masing masalah tersebut.
- ZPD untuk kesalahan penggunaan huruf kapital.
- ZPD untuk ketidakkonsistenan bentuk huruf.
- ZPD untuk ketidakkonsistenan ukuran huruf.
- ZPD untuk ketidakstabilan alur tulisan.
- Merancang program pelatihan dengan teknik scaffolding. Teknik scaffolding dalam pelatihan ini meliputi tahapan sebagai berikut.
- Memberikan tugas menulis kalimat yang didiktekan orang tua/guru.
- Bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi kesalahan tulisan mereka.
- Menjelaskan mengenai pelatihan dan ZPD masing-masing permasalahan.
- Menjelaskan kriteria penulisan yang benar dan meminta anak menyatakan kembali kriteria tersebut.
- Memberikan latihan menulis dengan orang tua/guru memberikan bantuan.
- Mengevaluasi hasil pekerjaan siswa bersama-sama dengan anak.
- Memberikan latihan menulis dengan mengurangi bantuan terbatas pada kesalahan yang banyak dilakukan anak.
- Mengevaluasi hasil pekerjaan bersama-sama dengan anak.
- Memberikan latihan menulis tanpa bantuan orang tua/guru.
- Mengevaluasi pekerjaan anak. Pelatihan tersebut diulang-ulang pada tiap-tiap kesalahan disgrafia yang dialami anak hingga terdapat perubahan.
SARAN
Dalam menghadapi anak dengan disgrafia, kita harus benar-benar memahami keterbatasan dan kelebihan yg mereka miliki.
Mendukung dia dan mengembangkan pemikiran positif mereka tentang dirinya sendiri.
Dan jika mereka tak bisa berubah, bantulah dia dlm menyampaikan informasi atau isi pikirannya dengan bantuan tulisan komputer.










